Monday, August 25, 2008

Masihkah Islam Menjadi Rahmat Bagi Umat

Kenapa, kenapa aku dipandang sinis selalu oleh mereka-mereka yang berpenampilan islami, yang bertuturkata serba lembut dan sopan dan saling menghormati diantara mereka. Namun kenapa perlakuan mereka terhadapku begitu bertolak belakang dengan sikap diantara sesama mereka? Bukannya kehadiran mereka itu membawa rahmat dibumi ini sebagaimana diturunkannya Islam ke muka bumi.

Memang aku berasal dan berlatar dari lingkungan terminal, keseharian ku berdekatan dan bahkan bergaul dengan para pemalak, penipu, pencopet, pemabuk atau banyak lagi jenisnya, sebab begitu banyaknya kejahatan dan kejelekan yang berkubang di terminal hingga aku tak dapat menyebutkannya secara detail.



Apa hal itu yang membuat mereka selalu berpandangan sinis terhadap ku? Wah aku tak berani mengambil kesimpulan seperti itu, sebab mereka tak mungkin berpandangan seperti itu karena pengetahuan mereka mengenai islam melebihi pengetahuan ku. Sementara aku sendiri untuk melakukan sholat saja baru-baru ini, ketika sudah tak ada lagi yang mau ku ajak untuk berteman, ketika sudah tak ada lagi yang mau ku ajak untuk bercinta dan berkasih sayang. Tanpa sadar ternyata Allah selalu memperhatikan diriku walaupun aku sendiri selalu melakukan apa yang dilarang oleh-Nya, namun tak sedikitpun Ia mengurangi rasa perhatian-Nya pada ku “hamba-Nya”. Benar Allah itu Maha segala-galanya tak ada kesangsian terhadap-Nya dan Maha Nya tak bercela sedikitpun.


Technorati Profile

Read More......

Saturday, July 19, 2008

Mimpi Seorang Hamba

Sehabis impian ini terwujudkan, Hamba akan membawa nya kehadapan Paduka, Paduka yang tak memiliki selir-selir yang selalu dekat bersama Paduka terkecuali seorang Permaisuri yang selalu tegar mendampingi Paduka dan Ia pun tak ingin sedetik pun lengah untuk berjuang bersama Paduka mempertahankan Kerajaan yang telah Paduka bangun. Ia pun merupakan perhiasan yang selalu memberikan ketakjuban buat Kerajaan yang tak berahta di hati semua orang namun hanya bertahta pada hati Hamba dan Saudara-saudara hamba. Ia merupakan mutiara hitam yang tersimpan di kedalaman relung-relung Kerajaan yang dibangun dengan pondasi saling percaya, bertonggakkan kejujuran, berdindingkan kasih sayang dan cinta. Paduka yang selalu memberikan pengertian-pengertian dari hal-hal apa saja yang sedang Hamba alami, Paduka layaknya sebuah pena yang menggoreskan dan melukiskan setiap pengetahuan pada diri Hamba dan Saudara-saudara hamba “jiwa yang polos”, Paduka pula lah yang mengajarkan pada Hamba bagaimana kita memberi arti pada kehidupan ini. Meskipun belum sepenuhnya apa yang Paduka berikan kepada Hamba itu dapat Hamba lakukan, Paduka begitu berartinya bagi Hamba.



Mimpi itu! Mimpi itu yang merengut kedekatan Hamba bersama Paduka, entah kapan kedekatan itu datang kembali dan menghiasi suasana kehidupan Hamba dan Paduka. Hari berganti dan musimpun terus berputar sementara Hamba telah berada pada tempat yang berbeda. Adakah rasa rindu yang muncul di antara Hamba dan Paduka dapat menghambat perjuangan Hamba tuk mencapai impian?

Semenjak kerajaan itu Hamba tingalkan, pergi entah untuk waktu yang berapa lama. Kedekatan yang Hamba rasakan itu pun sedikit demi sedikit mulai surut dan menyusut, ini terbukti dengan banyaknya wasiat-wasiat yang Paduka bekalkan pada Hamba telah terbuang dan berceceran seiring jejak langkah kaki ini. Di sini, wasiat-wasiat yang Paduka berikan pada Hamba itu tak mampu bertahan di dalam jiwa Hamba. Sementara, di satu sisi Hamba pun tak mampu mempertahankannya. Sebab dunia yang Sekarang Hamba hadapi telah mengalami perubahan dan perubahan itu mesti terjadi, walaupun semua tangan berusaha tuk menghentikannya. Ini bukanlah salah siapa-siapa, namun ini merupakan tahap pembelajaran, pembelajaran yang tak pernah ada hentinya.

Ditempat ini, tempat dimana Hamba merasa tak seorang pun mengenali dirinya, terutama diri Hamba yang tak tahu siapa sebenarnya Hamba. Itu disebabkan oleh begitu indahnya ukiran pedang kehancuran yang berkilau dimata yang siap memisahkan kepala dari tubuh ini. Namun Hamba tak tahu apa yang terjadi pada jiwa Hamba jika wasiat-wasiat yang Paduka berikan tak Hamba dapatkan terlebih dahulu, walaupun Hamba sempat memandang wasiat-wasiat yang Paduka berikan hanya sebagai dongeng pengantar tidur yang siap meninabobokan kehidupan Hamba atau pelipur lara dalam kehidupan seorang Fakir.

Mengapa Hamba sampai berpandangan seperti itu terhadap wasiat-wasiat yang Paduka berikan? Hamba pun tak mengerti. Itu semua terjadi mungkin dikarenakan oleh ketidakpahaman Hamba pada hakekat dari wasiat-wasiat yang telah Paduka berikan atau karena ketidakutuhan Hamba dalam menerima wasiat-wasiat yang Paduka sampaikan dan untuk mengutuhkan atau menyempurnakan wasiat-wasiat yang telah Paduka sampaikan, maka Paduka menyarankan Hamba untuk pergi meninggalkan Paduka dan coba tuk lihat seperti apa dunia luar itu. Dunia yang tak dapat untuk diterka atau dikira-dikira atau lebih jauh lagi untuk dapat memastikan mana yang benar atau yang salah, yang baik atau yang buruk, mana yang patut dipercaya atau yang tidak patut untuk dipercaya. Sementara Paduka telah menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam wasiat-wasiat tersebut kedalam diri Hamba agar tumbuh subur, berkembang dan berbuah. Namun Hamba tak dapat sepenuhnya tuk merawat dan memelihara nilai-nilai yang terkandung dalam wasiat itu, sebab Hamba tak pernah menyirami nilai-nilai itu akan tetapi justru mencabutinya.
Kini hanya tinggal penyesalan atas apa yang terlah berlalu terhadap diri Hamba, Hamba mencoba menggali kembali wasiat-wasiat itu, siapa tahu masih ada nilai-nilai yang terkandung didalam wasiat itu yang dapat Hamba rawat dan pelihara dalam keterpisahan Hamba dan Paduka. Hamba mencoba tuk mencari kembali benih-benih yang pernah Hamba sia-siakan, benih-benih yang telah Paduka tanamkan dan menghilang lenyap dimakan oleh keangkuhan dan kesombong Hamba yang telah menyepelekan apa yang Paduka tanamkan melalui wasiat-wasiat tersebut.

Semenjak Hamba berpisah dan pergi meninggalkan Paduka demi suatu mimpi yang keberadaannya ada pada setiap atap-atap pikiran Hamba dan Hamba pun mulai terlarut dalam mimpi-mimpi itu. Kini mimpi-mimpi itu tak memiliki kesempurnaannya lagi dan itu dikarenakan oleh keterpisahan yang terjadi diantara Hamba dan Paduka. Tapi untuk mewujudkan mimpi itu didalamnya terkandung suatu perpisahan dan ini mungkin dapat dibilang suatu hukum kemutlakan yang diperuntukkan kepada Hamba setelah Hamba menerima beberapa wasiat yang Paduka berikan untuk diterapkan dalam menjalin cerita tentang kehidupan Hamba. Selanjutnya Hambalah yang akan menentukan seperti apa jalinan perjalanan kehidupan yang nantinya Hamba ukir pada setiap jejak jejak langkah yang Hamba pilih.

Hamba teringat akan nasehat yang pernah Paduka sampaikan dimana saat itu Hamba sedang mengalami perasaan yang susah untuk diungkapkan akan tetapi perasaan itu membuat Hamba tak mampu lagi tuk bermimpi ataupun tuk memiliki suatu keinginan, sebab pada waktu itu Hamba berkeinginan untuk belajar Strategi Perang dan bermimpi tuk menjadi Panglima Perang yang tangguh dan selalu menguasai setiap peperang yang terjadi dimedan perang. akan tetapi mimpi dan keinginan itu tak pernah terjadi walaupun latihan telah berkali-kali dilakukan namun Hamba tetap tak mampu untuk dapat menguasai medan peperang dan belajar strategi perangpun seakan percuma. Hingga saat itu Hamba merasakan akan kepasrahan dan meninggalkan segala bentuk mimpi-mimpi yang ada dan juga semua keinginan yang pernah singgah pada jiwa Hamba.

Hamba pun tak tahu ternyata Paduka memperhatikan perubahan yang terjadi pada diri Hamba. Berawal dari kebiasaan Hamba di waktu sore tiba, Hamba berlatih pada seorang Guru di Padepokan Istana dan dimana Hamba berada kapanpun jua Pedang Pusaka Kerajaan selalu dalam genggaman Hamba, namun setelah perasaan itu muncul Hamba tak pernah lagi untuk latihan dan Pedang Pusaka Kerajaan pun telah Hamba kembalikan pada Paduka dan itu pun tanpa sepengetahuan Paduka.

Perubahan yang terjadi pada diri Hamba membuat Paduka bingung dan ingin mengetahui mengapa sikap Hambanya berubah. Selanjutnya Hamba dipanggil oleh Paduka guna menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi pada diri Hamba, Hamba pun menjelaskan dengan gamblang apa sebenarnya yang terjadi hingga membuat Hamba menjadi seperti ini.
Paduka kan tahu, apa sebenarnya yang menjadi mimpi Hamba selama ini, Tanya seorang Hamba pada Padukanya. Tanpa memberikan kesempatan kepada Paduka untuk menjawab, si Hamba tersebut langsung menjawab sendiri pertanyaan itu. Tak lain ialah ingin menjadi seorang ahli dalam merencanakan Strategi Perang, pandai membaca taktik lawan dan kemudian mencari tahu dimana titik-titik kelamahannya yang selanjutnya merencanakan berbagai strategi untuk melawan setiap musuh yang berani mengusik ketentraman Kerajaan.

Hamba menunduk, suasana menjadi sunyi untuk sesaat, sementara Paduka duduk di atas tahtanya memandang Hamba dengan mimik wajahnya yang tetap mencitrakan kewibawaan dan keagungan dihadapan Penasehat-penasehat Kerajaan dan Senopati-senopati Kerajaan. namun ditengah-tengah mereka Hamba memiliki pandangan yang berbeda terhadap Paduka, Paduka tak layak menjadi sorang Raja untuk Hamba, lirih dalam hati Hamba.

Hamba kemudian mencoba tuk memberikan penjelasan kembali di hadapan Petinggi-petinggi Kerajaan, atas perubahan yang terjadi pada diri Hamba. Kini, telah berapa musim yang dilalui oleh mimpi itu dan berapa kali peperangan terjadi yang terlewatkan begitu saja oleh mimpi itu. Berapa pohon anggur yang telah tertanam dan kemudian dipanen oleh Kerajaan ini, sementara mimpi itu masih saja mendekam pada posisinya semula.

Mimpi itu tak berubah dan tak mengikuti perubahan musim walaupun mimpi itu melaluinya dan juga, mimpi itu tak dapat merasakan manisnya anggur sebab manisnya mimpi itu tak pernah diharapkan oleh Kerajaan ini.

Hamba tersebut tertunduk kembali, setelah mengungkapkan apa yang menjadi penyebab perubahan pada kehidupan Hamba. Namun sebelum Hamba menundukan kepala, tanpa sengaja pandangan Hamba menyisir keseluruh barisan Punggawa-punggawa Kerajaan yang berdiri membentuk lingkaran. Sementara semua Punggawa Kerajaan yang hadir saat itu memandang Hamba dengan sedikit kekecewaan, sebab mereka semua tak menduga bila seorang Hamba dari kerjaan ini begitu lemah dan rapuh sekali dalam menghadapi kenyataan yang terjadi.

Setelah panjang lebar mengungkapkan kejadian itu, Hamba melihat Paduka yang duduk ditahtanya tersenyum setelah mendengar penjelasan yang Hamba ungkapkan. Belum juga usai Paduka bersenyum, Paduka beranjak dari Tahta dan kemudian berdiri melangkah menghampiri Hamba. Seiring langkah kaki Paduka, senyuman itu pun sedikit demi sedikit lenyap dan kemudian menghilang saat Paduka berada tepat di hadapan Hamba. dan selanjutnya Paduka berucap “kehidupan itu tak akan memberikan hadiah jika kau tak berusaha” dan selanjutnya Paduka mengungkapkan “jika kau berani tuk bermimpi maka kau juga patut berani tuk menghadapi kenyataan,”


Technorati Profile

Read More......

Sunday, July 13, 2008

Perbedaan “Bukan Pemicu Api Peperangan”

Mengapa perbedaan itu terus dan selalu dipermasalahkan hingga menyeretnya pada titik kesenjangan, dibumi ini perbedaan yang telah sampai pada titik kesenjangan itu semakin hari makin terus menganga bahkan dagingnya telah terlihat dan sudah tak ada lagi yang sanggup tuk mengobatinya. Bumi menjerit dan entah berapa liter darah yang telah berceceran akibat terkelupasnya kulit persamaan dan kesederajatan, eh manusia apa kah kamu tahu akan luka yang diderita oleh bumi ini, apakah kalian tak berkeinginan tuk mengurangi rasa luka itu yang semakin hari luka itu semakin ramai dicumbui oleh lalat-lalat hingga kita tak tahu bahwa bumi telah terluka.

Memang kesenjangan dan perbedaan itu ada dan nampak jelas di pandangan kita, namun kita tak memiliki kemampuan tuk memungkirinya, namun tak seharusnya juga kita memperbesar atau menarik jauh akan perbedaan dan kesenjangan itu. Dengan adanya perbedaan dan kesenjangan tersebut, semestinyalah kita dapat menarik pengetahuan mengenai tanda-tanda kebesaran Allah, sebagaimana yang dijelaskan di dalam Al-Qur`an, yaitu:



“dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. (QS: Ar-Rum [30]: 22)

Selanjutnya dalam surat yang lain Al-Quran pun kembali menjelaskan mengenai bagaimana kita bersikap terhadap perbedaan, yaitu :

“tidakkah engkau melihat bahwa Allah menurunkan air dari langit lalu dengan air itu kami hasilkan buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan diantara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) diantara manusia, mahluk bergerak yang bernyawa dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Diantara hamba-hamba Allah yang takut pada-Nya, hanyalah para ulama (orang-orang yang mengetahui ilmu kebesaran dan kekuasaan Allah). Sungguh Allah Maha perkasa, Maha pengampun. (QS: Fatir [35]: 27-28)

Kedua surat diatas telah menjelaskan bahwa perbedaan itu akan dan mesti ada, namun hadirnya bukan untuk memicu kekacauan atau kerusuhan atau bahkan berdampak pada terjadinya perang, bukan pula untuk mengatakan bahwa kelompok sini yang benar atau kelompok sana yang salah, bukan untuk menganggap bahwa orang kulit putih lebih baik dari pada orang kulit hitam bukan.... bukan itu maksud kehadirannya.

Terjadinya perbedaan dan ragam macam di bumi ini ialah merupakan bentuk tanda-tanda akan kebesaran-Nya, perbedaan tersebut mengajak dan mengajarkan pada kita tentang bagaimana kita berhubungan sesama manusia dengan saling mengerti dan mengetahui dan berbagi. Layaknya langit dan bumi, langit yang menurunkan hujan disaat bumi sedang dilanda kekeringan. Begitu juga dengan siang hari, tempatnya kita memulai segala aktivitas kemudian di malam harinya, tempat kita melepas kelelahan. Begitulah semestinya kita menyikapi segala perbedaan yang terjadi di bumi ini.


Technorati Profile

Read More......

Thursday, July 3, 2008

Rasakan Keberadaan Allah

Pernahkah tertanam pada kesadaran kita mengenai keberadaan Allah SWT dalam segenap tingkah dan pola perbuatan kita? Ah... sepertinya jarang, jarang sekali kita menyadari akan keberadaan Sang Pencipta dalam segala rutinitas yang kita lakukan, bahkan mungkin ada yang dengan sengaja untuk tidak menyadarinya.

Sementara azan telah berkumandang, lha.... kita masih saja sibuk dengan kegiatan kita, dengan aktivitas yang kita lakukan. Meskipun Mu`azin atau Bilal telah dengan lantang menyuarakan panggilan tuk kembali menghadap-Nya. Apakah pangilan itu sudah tak terdengar lagi oleh kita? Atau jangan-jangan kita telah menduakan-Nya dengan menganggap bahwa kesibukan dan aktivias kita lebih utama ketimbang panggilan tersebut, istighfar lah dengan memohon ampun pada-Nya.



Memang, kita terkadang lupa dan itu merupakan penyakit bagi manusia dan itu takkan terelakkan, tapi kenapa kita tidak coba tuk menjauh dari penyakit itu, malah terkadang kita dengan sengaja memamfaatkannya. Waduh gawat ni kalau sudah seperti itu, istighfar lah dengan memohon ampun pada-Nya.

Di sawah, para petani mencangkul dan membajak sawah. Di pasar, para pembeli sibuk menawar barang dan pedagang sibuk menjual barang. Di kantor para karyawan tak bosen-bosenya memandang komputer dan menejer sibuk lalu lalang sembari bikin janji dengan klien. Di gedung DPR, para wakil rakyat saling adu mulut hanya untuk memperjuangkan aspirasi rakyat hingga terkadang rakyatnya sendiri lupa bahwa keputusan yang diambil oleh anggota dewan itu tidak mencerminkan aspirasinya (rakyat). Sementara dikampus, mahasiswa dengan slogan agen perubahan berjingkrak-jingkrakan di jalanan menuntut kepada pemerintah agar kebijakan yang diambil berpihak pada rakyat. Di pabrik, para buruh berkerja dengan khidmatnya. Semua sibuk dengan aktivitasnya masing-masing sementara pada saat itu juga adakah kita tahu bahwa Allah berada dekat dengan kita? Lagi-lagi hanya kita yang tahu.

Jika dalam kesibukan itu, tertancap akan kesadaran kita bahwa Allah itu ada dan dekat dengan kita, otomatis segala penyelewengan, kekerasan, kesenjangan dan ketidakberaturannya rawut wajah bumi tak akan seperti ini, dimana korupsi, kekerasan dan fitnah telah merajalela. istighfar lah dengan memohon ampun pada-Nya.


Technorati Profile

Read More......

Friday, June 27, 2008

Benarkah Manusia Hamba Allah

Umat yang beragama islam telah mengetahui bahwa Tuhan itu Esa dan dengan lantangnya mengatakan Kemahaan-Nya bersamaan dengan itu umat islam mengakui bahwa mereka hamba Allah. Cobalah kau tanyakan kepada mereka benarkah Tuhan itu Esa dan Maha? Mereka menjawab itu adalah benar, bahkan kemungkinan besar kita akan diberi penjelasannya mengenai Keesan-Nya “bahwa tiada tuhan selain Allah SWT” , itulah penjelasan yang pasti akan kau dengar dari mereka.

Sedari kecil aku juga tahu kalimat itu bahkan guru ngaji ku memerintahkan kalimat tersebut untuk dihafalkan sebanyak-bayaknya. Namun kini kebenaran yang terkandung dalam kalimat tersebut pernahkah atau masihkah bersemayam pada diri kita? Coba kita renungkan kembali, seperti apa kebenaran bahwa tiada tuhan selain Allah. Sehingga, kaliamat itu tidak hanya menjadi slogan-slogan yang bergema di mesjid-mesjid, mushola dan langgar-langgar yang berdiri megah di permukaan bumi ini.



Apakah Allah yang kita sembah dan kita puji, jangan-jangan diri kita sendiri justru yang kita sembah dan kita puji. Walah kenapa seperti ini..... jika memang benar bahwa Allah lah yang kita sembah dan kita agungkan dengan patuh dan taat pada-Nya kemudian mengakui Kemahaan-Nya, mengapa masih ada umatnya yang bahagia berlimpah harta sementara lainnya sengsara dicekik oleh gembok-gembok tempat penyimpan harta mereka. Kenapa masih ada pemimpin yang berkuasa atas rakyatnya melebihi kuasa Tuhan, hidup dan mati rakyatnya tergantung padanya seakan-akan pemimpin tersebut sudah tidak ber-Tuhan lagi, dan masih banyak lagi fenomena-fenomena yang diperbuat oleh masyarakat islam yang tanpa sadar perbuatan tersebut telah menentang kekuasaan Allah.

Sebagaimana sifat seorang hamba, ia tetap tak memiliki kuasa terhadap sesema hamba, meskipun ia diberi kelebihan oleh Sang Pengatur Jagad Raya, bahkan semestinyalah sifat kehambaannya semakin menghujam ke lubuk hati yang terdalam hingga muncul mata air-mata air yang membawa berkah kepada hamba-hamba-Nya yang lain.

Apakah yang terjadi jika kebenaran kalimat “tiada tuhan selain Allah” sudah tak bermakna pada jiwa kita..... hiiihihi.... ngeri aku membayangkannya, meskipun lidah ku sendiri masih meraba-raba dalam mencicipi kebenaran kalimat tersebut.


Technorati Profile

Read More......